Jumat, 10 April 2015

Goyang Drible Duo Serigala Bikin Napi LP Cipinang Bengong

Jakarta - Kisah sensional Duo Serigala sepertinya tak pernah habis. Perjalanan sukses Duo dangdut, Pamela Safitri (19) dan Ovi Sovianti (21) banyak menyisakan cerita menarik.
Pamela Safitri (19) dan Ovi Sovianti (21)
Salah satunya cerita Duo Serigala pertama kali off air alias manggung. Ternyata, duo dangdut pemilik Goyang Drible ini pertama kalinya merasakan panggung di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur.
Ovi mengatakan, setelah grup terbentuk pada Desember 2014, mereka manggung di dalam LP Cipinang. “Pertama kali manggung di LP Cipinang ya, Allah rame banget. Mereka pada bengong aja,” ujar Ovi.
Menurut Pamela, kondisi para narapidana yang menjadi warga binaan LP Cipinang membuatnya sedih. “Kita sedih lihat mereka. Tatapannya seperti kosong,” ungkapnya.
Hal itu, katanya, membuatnya meneterkan air mata. “Kita belum terkenal, mereka masih tanya ini siapa?,” ucapnya.
sumber: www.harianterbit.com

Kamis, 09 April 2015

Baru Menjabat Sesditjen PAS, Endang Tanding Bola Di Lapas Cipinang

Jakarta, INFO_PAS – Pekan Olahraga, Seni dan Bakti Sosial Kementerian Hukum dan HAM RI DKI Jakarta resmi dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Sesditjenpas), Endang Sudirman di Lapas Klas I Cipinang, Rabu (8/4).
“Kegiatan pertandingan olahraga dan kesenian bukan saja hanya bermanfaat untuk menyegarkan jasmani, tetapi juga dapat memupuk watak dan kepriabadian yang seportif,” ujar Endang yang turut ikut bermain memperkuat tim sepak bola Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta melawan tim dari Polres Jakarta Timur. Dalam pertandingan tersebut, tim sepak bola Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta harus tahluk 1-4 dari tamunya, tim sepak bola Polres Jakarta Timur.
Tidak hanya diikuti kontingen dari seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-DKI Jakarta, gelaran tersebut juga mengikutsertakan kontingen dari Polres Jakarta Timur dan perwakilan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Lebih lanjut, Endang yang baru 2 hari resmi menjalankan tugas serbagi Sesditjen PAS ini juga menyatakan Pekan Kegiatan Olahraga, Seni dan Bakti Sosial yang diikuti oleh Petugas Pemasyarakatan, WBP dan Petugas dari Penegak Hukum lain merupakan momentum silahturahmi sekaligus meningkatkan kerjasama dalam tugas masing-masing.
“Selain bermanfaat untuk menyalurkan hobby, kegiatan ini juga bertujuan untuk mempererat tali silahturami dan saling meningkatkan kerjasama dalam bidang tugas masing-masing,” tutur Endang.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenkumham DKI Jakarta, Marjoeki mengungkapkan kegiatan Pekan Olahraga, Seni dan Bakti sosial ini digelar dalam rangka Hari Bhakti PAS yang akan diperingati tgl. 27/4 nanti.
“Dengan digelarnya kegiatan ini, diharapkan dapat memupuk semangat dan mensinergikan Petugas Pemasyarakatan se-Wilayah DKI Jakarta, menambah motivitasi serta mengurangi sekat antara Petugas PAS, Penegak hukum lain, maupun Warga binaan,” pungkas Marjoeki. (DN)
Penulis: N. Hakiki
SUMBER : http://www.pemasyarakatan.com/baru-menjabat-sesditjen-pas-endang-tanding-bola-di-lapas-cipinang/

Senin, 06 April 2015

Penutupan Pameran Karya Unggulan Narapidana Tahun 2015

Jakarta, INFO_PAS – Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Handoyo Sudradjat, secara resmi menutup kegiatan Pameran Karya Unggulan Narapidana Tahun 2015 yang diikuti oleh seluruh Divisi Pemasyarakatan diseluruh wilayah Indonesia dengan tema “Kreatifitas Tanpa Batas Meski Tempat Terbatas” bertempat di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kamis (2/4).
“Dengan mengucap Alhamdulillahirobbil Allamin acara pameran Karya Unggulan Narapidana Tahun 2015 secara resmi kami tutup,” ucap Handoyo disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut Handoyo juga membagikan piala penghargaan bagi 7 kategori stand terbaik selama pameran berlangsung, diantaranya adalah stand terlaris yang didapatkan oleh Wilayah Kalimantan Selatan, Stand terlengkap Wilayah Jawa barat, Stand ternyaman Wilayah Banten, Stand terfavorit Wilayah Riau, Stand terkreatif Wilayah Yogyakarta, Stand terunik Wilayah Kalimantan Barat, dan Stand terapih Wilayah Lampung.
Acara yang berlangsung selama tiga hari, Selasa (31/3) sampai Kamis (2/4) tersebut, telah menunjukan kepada masyarakat luas bahwa tahanan dan narapidana yang berada di dalam Rumah Tahanan atau di dalam Lembaga Pemasyarakatan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga mendapatkan ilmu dan mendapatkan pembinaan untuk mengembangkan bakat dan kreatifitasnya.
Selain sebagai ajang pameran, Kementerian Hukum dan HAM  berharap kesempatan ini menjadi ajang kerjasama dan silaturahim antar calon tenaga kerja profesional yang berasal dari Warga Binaan dengan pelaku industri, sehingga masyarakat luas dapat lebih mengetahui potensi yang dimiliki oleh para narapidana di Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia.
Diakhir sambutannya Handoyo mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Perindustrian atas kerjasama yang selama ini telah dibangun dan dengan lancarnya kegiatan yang diselenggarakan di Kementerian Perindustrian.
“Kami mengucapan terimakasih  kepada Kementerian Perindustrian Khususnya Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah yang telah memfasilitasi kegiatan pameran karya unggulan narapidana tahun 2015, yang dirasakan sangat membantu dalam upaya publikasi dan promosi karya Unggulan Narapidana, sehingga Karya-karya Narapidana ini dapat diterima dan dihargai masyarakat luas khususnya para pengunjung,” pungkas Handoyo.
Penulis : Tim Humas Ditjenpas
link : http://www.pemasyarakatan.com/penutupan-pameran-karya-unggulan-narapidana-tahun-2015/

Rabu, 01 April 2015

Tak Hanya Napi, Klien Bapas Pun Hasilkan Produk Unggulan

Jakarta, INFO_PAS – Pameran Produk Unggulan Narapidana 2015 ternyata tak hanya menjadi panggung tersendiri bagi lapas\rutan untuk memamerkan hasil karya narapidana mereka. Bapas pun tak mau ketinggalan menunjukkan bahwa klien PAS pun mampu menghasilkann karya bermutu.
Seperti yang dilakukan oleh klien Bapas Jaksel yang sukses membuat sabun cair, sabun pencuci piring, shampo, softener, pembersih lantai, dan detegen bubuk.
“Produk2 ini merupakan hasil pelatihan klien bapas yg telah dilakukan beberapa waktu lalu dengan LPK Puspa Antariksa,” kata Kabapas Jaksel, Anis Joeliati.
Anis menjelaskan bahwa ini merupakan kali pertama Bapas memamerkan produk tersebut dalam pameran. “Saat ada info tentang pelaksanaan pameran ini, sy tak ragu untuk mendaftar. Apalagi selama ini yg tampil hanya produk lapas rutan. Pdhl klien bapas jg mampu menghasilkan produk,’ jelasnya.
Omzetnya pun cukup menjanjikan. Pada hari pertama pameran, total 25 produk sukses terjual. Sementara pada hari kedua sudah laku 12.
“Rencananya akan kami distribusikan ke koperasi upt wilayah jakarta. Sejauh ini kami sdh dpt lampu hijau dr kalapas cipinang,” kata Anis.
“Mdh2n kedepannya bisa lbh luas lagi distribusinya,” tambahnya.
Sementata itu, klien bapas bogor yg membauat produk tersebut, aji budi, mengaku mendapat keahlian membuat produk ini berkat pelatihan yg dikelola bapas jaksel.
“Sebelumnya sy tidak tahu caranya. Sejak pelatihan jadi bisa membuat produk2 ini,” aku Aji.
Pembuatannya pun diakui aji tidak yerlalu sulit. “Bahan dasarnya hampir sama seperti air, garam, parfum. Namun masing2 produk ada tambahan lainnya,” jelasnya.
Harga masing2 produknya pun terjangkau. Satu botol berisi 300ml dihargai 7rb. Sementara botol kecil 15 ml dihargai 4rb saja. Bahkan sebagai promosi, pengunjung cukup membayar 20rb bila membeli 3 produk selama pameran.
“Kami harapkan ini terus berlanjut n dpt lebih luas pemasarannya di lp rutan. Yg penting kami pastikan tidak ada bahan kimia dlm produk ini,” pungkas anis. ***

Penulis: Irma Rachmani
Sumber : http://www.pemasyarakatan.com/tak-hanya-napi-klien-bapas-pun-hasilkan-produk-unggulan/

Senin, 30 Maret 2015

KRL (Kereta Rel Listrik) 05.43 a.m. Bekasi

Kereta Rel Listrik (KRL) telah menjadi primadona para pekerja, baik yang berada di Instansi pemerintah maupun swasta. KRL merupakan salah satu angkutan umum yang menjadi tulang punggung kehidupan banyak orang begitu juga dengan diriku sekarang. 

Tinggal didaerah Bekasi dan bekerja di Jakarta Pusat, membuatku memilih tranportasi ini sebagai teman seperjuangan mencari kehidupan dan penghidupanku. Lima (5) hari dalam seminggu (kalo gak ada tanggal merah) ku menumpang padanya untuk mencapai tujuanku.

KRL 05.43 a.m. menjadi idolaku dikala ku ingin mencapai tempat dimana ku harus berada selama hari kerja. KRL yang terbilang manusiawi (kata temanku) membuatku selalu memilihnya walau di hari senin sedikit harus mengeluarkan tenaga lebih. Tidak peduli ku harus bangun awal untuk dapat menjumpainya. Tentunya, bukan hanya aku yang melakukan hal tersebut.

KRL 05.43 a.m. jikalau kau tidak hadir 1 hari saja maka akan terasa berat perjalananku. Jika ku terlambat 1 menit saja maka gundah rasa hatiku. Dengan jadwal baru adakah berubah kedatanganmu?

KRL 05.43 a.m. teman seperjuanganku





Kamis, 26 Maret 2015

Bapas Berperan Penting dalam Sistem Peradilan Pidana

Jakarta, INFO_PAS – Balai pemasyarakatan (bapas) berperan penting untuk melakukan penilaian evaluasi pelaksanaan program dan perkembangan pembinaan di lembaga pemasyarakatan (lapas). “Bapas melaksanakan fungsi control check and balance dalam proses pembinaan pelanggar hukum,” ucap Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional “Implementasi Restorative Justice di Indonesia dan Peran Pekerja Sosial Koreksional dalam Pembinaan Pelanggar Hukum Berbasis kepada Masyarakat (Community Based Treatment),” Rabu (25/3).
Dikatakan Yasonna, bapas merupakan salah satu sub-sistem dari Pemasyarakatan yang berfungsi pada tahapan pre-ajudikasi, ajudikasi, hingga post-ajudikasi dan bertanggung jawab dalam upaya penyatuan kembali hubungan sosial antara narapidana dengan masyarakat. “Maka kinerja bapas harus semakin dikuatkan agar dapat menyelenggarakan dan mewujudkan de-institusionalisasi secara lebih maksimal,” tegasnya.
Disinilah kebijakan re-integrasi sosial atau restorative justice menjadi paradigma perubahan yang lebih berorientasi kepada pemulihan dan pemidanaan berbasis masyarakat. “Pelaksanaan remisi, asimilasi, pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, serta bentuk-bentuk pidana berbasis masyarakat lainnya menjadi bukti bahwa negara hadir, tidak hanya dalam proses peradilan pidana, namun juga dalam proses pembinaan narapidana,” terang Yasonna.
Untuk itulah, Yasonna menekankan pentingnya community based treatment dimana peran bapas menjadi sangat penting dalam sistem peradilan pidana, khususnya dalam melakukan penelitian kemasyarakatan guna kepentingan diversi, penyidikan, penuntutan, dan persidangan, termasuk pembinaan dan pembimbingan narapidana. “Masyarakat juga diminta berperan aktif untuk ikut mengatasi tingkat kriminalitas dan over kapasitas lapas dan rumah tahanan sebagaimana intervensi berbasis masyarakat,” harapnya.
Dalam seminar yang diadakan di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini hadir pula Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Handoyo Sudradjat, sejumlah Staf Ahli pada Kementerian Hukum dan HAM, perwakilan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, serta jajaran rektorat dan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah.
Dalam acara tersebut juga ditandatangani nota kesepahaman antara Dirjen PAS Handoyo Sudradjat dengan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Dede Rosyada, terkait Pendampingan, Pengawasan, dan Pembimbingan Klien Pemasyarakatan.

Penulis: Irma Rachmani
Sumber : http://www.pemasyarakatan.com/bapas-berperan-penting-dalam-sistem-peradilan-pidana/

Selasa, 17 Maret 2015

Cerita Komandan Eksekusi Mati: Saya Senter Arah Jantung Terdakwa

Jakarta - Imron Anwari merupakan komandan eksekusi mati tahanan politik kasus PKI, Kapten Ahmad pada 1987. Belakangan, Imron menjadi hakim agung dan pensiun pada 2014 lalu.

"Ketika saya bertugas di Dilmil Denpasar, saya melaksanakan hukuman mati. Saya menjadi eksekutor. Pada saat itu saya menjadi kepala oditur (jaksa penuntut umum)," kata Imron Anwari kepada Majalah MA sebagaimana dikutip detikcom, Selasa (17/3/2015).

Kapten Ahmad divonis mati pada 1965, sesaat setelah meletus peristisa G 30 S. Setelah itu, ia ditahan menanti eksekusi mati.

"Namanya Kapten Ahmad. Lumayan dramatis karena selama di tahanan saya cukup terlibat secara emosional dengan terdakwa," kisah Imron.

Imron memonitor aktivitas Kapten Ahmad setiap hari. Apakah kesehatannya bagus atau kondisi psikologinya baik. Mereka kerap terlibat obrolan ringan hingga soal ideologi. Menurut Imron, pendirian Kapten Ahmad tentang ideologi komunis sangat kental dan tidak bisa digoyahkan. Bahkan, apabila anaknya datang menjenguk, dia selalu berpesan kepada anaknya agar melanjutkan perjuangannya.

"Oleh sebab itu saya semakin mantap mengeksekusinya, menurut saya orang seperti ini harus segera dibinasakan," terang Imron yang tidak pernah bercita-cita terjun di dunia militer atau hakim agung.

Sebelum eksekusi, petugas memanggil keluarga Kapten Ahmad. Apakah ada pesan-pesan terakhir. Pelaksanaan eksekusi pukul 02.00 dini hari dengan regu tembak ada enam.

"Saya yang memberikan aba-aba dengan mengangkat pedang dan menyenter ke arah jantung terdakwa yang sudah diberi tanda spot light agar sniper langsung mengarah ke jantung. Posisi saya antara regu tembak dan terdakwa," cerita Imron yang bercita-cita menjadi orang yang bekerja menggunakan jas.

"Terdakwa terlihat sangat siap, karena ketika matanya akan ditutup dia tidak mau. Tetapi tetap saya tutup. Ketika sudah ditembak, saya bersama seorang dokter memeriksa nadinya dan sudah tewas. Seandainya setelah ditembak belum tewas juga, yang harus menembak ulang adalah saya, sampai benar-benar tewas. Karena ini tugas, maka saya harus melaksanakan, maka saya harus melaksanakan," pungkas Imron.

Sumber : http://news.detik.com/read/2015/03/17/092435/2860658/10/cerita-komandan-eksekusi-mati-saya-senter-arah-jantung-terdakwa?9911012